Dalam artikel ini akan membahas peluncuran buku inspiratif Keajaiban yang Tenang yang menghadirkan kisah penuh makna tentang perjuangan melawan kanker dengan pendekatan yang berbeda. Buku ini tidak hanya mengangkat cerita emosional, tetapi juga menawarkan sudut pandang baru tentang penerimaan, harapan, dan kekuatan dalam keheningan yang jarang diungkap.
Peluncuran buku Keajaiban yang Tenang berlangsung pada 2 Mei 2026 di Tip Tap Toe Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Renjana Widya Santi, sebuah organisasi yang berfokus pada pendampingan pasien kanker. Yayasan ini dipimpin oleh Ibu Rini Hastuti yang juga menjadi salah satu penulis buku bersama drg. Sulistyaningsih.
Buku ini merupakan hasil kolaborasi dua sahabat yang telah menjalin hubungan lebih dari 40 tahun. Kedekatan tersebut menjadi fondasi kuat dalam menghadirkan kisah nyata yang penuh kejujuran, kedalaman emosi, serta refleksi spiritual yang menyentuh.
Keajaiban yang Tenang mengangkat perjalanan seorang perempuan dalam menghadapi kanker, namun tidak dengan narasi yang penuh ketakutan. Sebaliknya, buku ini menghadirkan cerita tentang bagaimana seseorang belajar menerima keadaan, menemukan kesadaran diri, dan menumbuhkan harapan dalam kondisi yang serba tidak pasti.
Lebih dari sekedar membaca buku, Keajaiban yang Tenang dirancang sebagai teman perjalanan bagi para pejuang kanker maupun orang-orang yang mendampingi mereka. Buku ini mengajak pembaca memahami bahwa proses penyembuhan tidak selalu identik dengan perlawanan keras, tetapi juga bisa hadir melalui penerimaan dan kedamaian batin.
Salah satu kutipan yang menjadi inti dari pesan buku ini berbunyi:
“Pasrah itu bukan berarti berhenti berharap. Pasrah artinya berhenti memaksa hidup menjawab dengan cara kita.”
Pesan tersebut menjadi benang merah yang mengikat seluruh isi buku, sekaligus mengajak pembaca untuk melihat makna “pasrah” dari sudut pandang yang lebih bijak dan penuh kesadaran.
Dalam sambutannya, Ibu Rini Hastuti menyampaikan pandangan yang menggugah tentang realitas kanker di masyarakat saat ini.
“Saat ini, kata kanker hampir menjadi sesuatu yang dekat dengan kita semua.”
Ia juga menambahkan bahwa pengalaman mendampingi pasien kanker selama 17 tahun telah membentuk keyakinannya bahwa kanker bukanlah sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan.
“Kanker itu bukan hukuman, bukan aib, dan bukan sesuatu yang harus disembunyikan.”
Lebih jauh, ia melihat para penyintas kanker sebagai individu yang memiliki kekuatan luar biasa dalam menjalani kehidupan.
“Saya melihat para penyandang kanker sebagai orang-orang terpilih—yang menjalani perjalanan hidup dengan kedalaman yang tidak semua orang alami.”
Peluncuran buku ini tidak hanya menjadi momen literasi, tetapi juga perayaan kemanusiaan. Acara dimeriahkan dengan pemutaran video perjalanan pembuatan buku yang memperlihatkan proses kreatif di balik lahirnya Keajaiban yang Tenang.
Selain itu, talkshow yang digelar turut mengupas perjalanan penulisan buku sekaligus pengalaman nyata penulis dalam menghadapi kanker. Diskusi ini menjadi ruang refleksi yang mendalam bagi para peserta yang hadir.
Tidak kalah penting, acara ini juga menghadirkan para penyintas kanker yang berbagi kisah mereka secara langsung. Kehadiran mereka menciptakan suasana yang penuh empati, kekuatan, dan kebersamaan, sekaligus mempertegas pesan bahwa tidak ada yang benar-benar sendiri dalam perjuangan ini.
Momentum peluncuran ini juga dimanfaatkan sebagai ajang perkenalan Yayasan Renjana Widya Santi kepada masyarakat luas. Yayasan ini memiliki komitmen kuat dalam memberikan pendampingan emosional dan psikologis bagi pasien kanker serta keluarga mereka.
Melalui buku Keajaiban yang Tenangyayasan berharap dapat menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan penguatan batin. Buku ini diharapkan mampu menjadi sumber inspirasi, harapan, dan pemahaman baru tentang kehidupan, khususnya bagi mereka yang sedang berjuang menghadapi penyakit.
Dengan pendekatan yang lembut namun penuh makna, Keajaiban yang Tenang menjadi bukti bahwa di balik keheningan, terdapat kekuatan besar yang mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup.
Buku ini tidak hanya relevan bagi pasien kanker, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin belajar tentang penerimaan, ketabahan, dan arti sejati dari harapan.
Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai buku maupun kegiatan yayasan, dapat menghubungi melalui email di renjanawidyashanti@gmail.com atau kontak di 0812 2345 498.***
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.