darulmaarif.net – Indramayu, 11 Juni 2026 | 10.00 WIB
Penulis: Ust. Atang Supriatna, S.Pd.*
Tidak banyak penyakit hati yang begitu ditakuti oleh Rasulullah SAW sebagaimana riya’. Tak terlihat secara kasat mata, tak meninggalkan bekas luka di tubuh, namun mampu membakar habis pahala amal yang telah susah payah dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Karena itulah Rosululloh SAW mengingatkan umatnya dengan peringatan yang sangat tegas. Sebuah peringatan yang hingga hari ini terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern yang dipenuhi budaya pencitraan dan pencarian pengakuan.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:
Ahli hukum, semoga Tuhan mengasihaninya, berkata: Muhammad ibn al-Fadl meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Muhammad ibn Ja`far meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Ibrahim ibn Yusuf meriwayatkan kepada kami, dia berkata: meriwayatkan kepada kami Abu Abdullah Al-Homsi, atas otoritas Mahmoud bin Labid bahwa Nabi, damai dan berkah besertanya, bersabda
Artinya: “Al-Faqih rahimahullah berkata: Muhammad bin al-Fadhl menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Yusuf menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah al-Himshi menceritakan kepada kami, dari Mahmud bin Labid, bahwa Nabi SAW bersabda:
Hal yang paling saya takuti bagi Anda adalah kemusyrikan kecil.
Artinya: “Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.”
Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apa itu kemusyrikan kecil?
Artinya: Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan syirik kecil itu?”
Dia berkata: Kemunafikan. Tuhan Yang Maha Esa berfirman kepada mereka, “Pada hari Dia akan memberi pahala kepada hamba-hamba-Nya atas amal mereka.”
Artinya: Beliau menjawab: “Riya’ (berbuat baik karena ingin dilihat orang). Allah Ta’ala akan berfirman kepada mereka pada hari Dia akan memberi pahala kepada hamba-hamba atas amalnya:
Kunjungilah orang-orang yang biasa kamu pamerkan di dunia ini, dan lihatlah apakah kamu dapat menemukan kebaikan pada diri mereka?
Artinya: ‘Pergilah kepada orang-orang yang biasa kamu tunjukkan amal-amalmu di dunia, lalu lihatlah apakah kamu memperoleh pahala atau kebaikan dari mereka.’” (Abu Laits As-Samarqondy, Tanbihul al-Ghofilin, Bab tentang Ikhlas dan Riya’, [DKI: Beirut]tt.)
Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghozali dalam pembahasannya tentang penyakit hati menjelaskan bahwa hakikat riya’ adalah upaya mencari kedudukan dan penghormatan di mata manusia melalui amal ibadah yang seharusnya ditujukan hanya kepada Alloh SWT. Beliau mendefinisikan riya’ sebagai:
Kemunafikan adalah mencari status di hati manusia melalui ibadah.
Artinya : “Riya’ adalah mencari kedudukan dalam hati manusia melalui ibadah.” (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumid Din, Beirut: Dar al-Ma’rifah, vol. 3, hal. 259)
Definisi ini menunjukkan bahwa riya’ tidak selalu berkaitan dengan keinginan memperoleh harta atau keuntungan materi. Seseorang bisa saja terlihat tekun beribadah, rajin bersedekah, atau aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi di balik semua itu tersimpan keinginan untuk mendapatkan pujian, penghormatan, atau pengakuan dari orang lain.
Syirik yang Tidak Disadari
Ketika mendengar kata syirik, kebanyakan orang langsung membayangkan penyembahan berhala, sesajen, atau keyakinan yang menyekutukan Alloh ‘Azza wa Jalla secara terang-terangan. Padahal Rosululloh SAW justru mengingatkan adanya syirik dalam bentuk yang jauh lebih halus, yaitu riya’.
Riya’ adalah melakukan suatu amal bukan semata-mata karena Alloh, melainkan karena ingin memperoleh perhatian, pujian, penghormatan, atau pengakuan dari manusia. Secara lahiriah amal itu terlihat baik, tetapi di dalamnya terdapat tujuan lain selain mencari ridlo Alloh.
Inilah yang membuat riya’ begitu berbahaya. Ia tidak selalu terlihat. Bahkan terkadang pelakunya sendiri tidak menyadari bahwa niatnya telah bergeser.
Fenomena Riya di Tengah Budaya Media Sosial
Di zaman sekarang, ujian riya’ memiliki wajah yang berbeda dibandingkan masa lalu. Jika dahulu seseorang mungkin ingin dipuji oleh tetangga atau masyarakat sekitar, kini ruang pencitraan terbuka jauh lebih luas melalui media sosial.
Tidak sedikit orang yang merasa terdorong untuk mendokumentasikan setiap aktivitasnya. Sedekah diunggah. Bantuan sosial direkam. Ibadah dipublikasikan. Bahkan aktivitas keagamaan yang sangat pribadi terkadang dijadikan konten untuk konsumsi publik.
Tentu tidak semua publikasi amal adalah riya’. Ada kalanya sebuah kebaikan memang perlu ditampilkan untuk menginspirasi orang lain atau mengajak masyarakat melakukan hal serupa. Namun persoalannya terletak pada niat yang bersemayam di dalam hati.
Ketika seseorang lebih bahagia karena mendapatkan pujian manusia dibandingkan karena diterima amalnya oleh Allah, maka saat itulah bahaya riya’ mulai mengintai.
Amal Besar Bisa Menjadi Tidak Bernilai
Hadits di atas memberikan gambaran yang sangat menggugah. Pada hari kiamat, Allah memerintahkan orang-orang yang berbuat baik karena riya’ untuk meminta pahala kepada orang-orang yang menjadi tujuan kebaikannya.
Pesan hadits ini sangat jelas. Jika tujuan utama amal adalah manusia, maka mintalah balasan kepada manusia. Sedangkan pahala dari Alloh hanya diberikan kepada amal yang dilakukan dengan ikhlas.
bahwa keikhlasan bukan sekadar pelengkap ibadah, melainkan ruh dari seluruh amal. Tanpa keikhlasan, amal yang tampak besar di mata manusia bisa menjadi ringan bahkan tidak bernilai di sisi Alloh.
Sebagai penutup, Imam Ibnu ‘Athoillah as-Sakandari mengingatkan bahwa nilai sebuah amal tidak semata-mata ditentukan oleh wujud luarnya saja, namun oleh keikhlasan yang terkandung di dalamnya. Dalam salah satu kebijaksanaannya yang terkenal, dia berkata:
Amal adalah gambaran yang ada, dan ruhnya adalah rahasia keikhlasan di dalamnya.
Artinya: “Amal-amal itu hanyalah bentuk-bentuk yang berdiri tegak, sedangkan ruhnya adalah keberadaan rahasia keikhlasan di dalamnya.” (Ibnu ‘Athoillah as-Sakandari, Al-Hikam al-‘Atho’iyyah, [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah]hlm. 9)
Ungkapan ini mengandung makna yang sangat mendalam. Sebagaimana tubuh manusia tidak akan bernilai tanpa ruh, demikian pula amal ibadah tidak memiliki nilai hakiki di sisi Alloh apabila kehilangan keikhlasan. Shalat, sedekah, puasa, dakwah, maupun berbagai aktivitas keagamaan lainnya bisa tampak sempurna di mata manusia, tetapi belum tentu bernilai di hadapan Allah jika dikerjakan demi pujian, popularitas, atau kepentingan diri.
Pada akhirnya, kehidupan dunia hanyalah panggung sementara. Pujian manusia tidak akan bertahan lama. Popularitas akan memudar. Namun amal yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap hidup dan menjadi bekal ketika manusia berdiri di hadapan Alloh Ta’ala.
Karena itu, di tengah dunia yang semakin ramai oleh sorotan dan pencitraan, marilah kita menjaga hati agar tetap jernih. Sebab yang dinilai oleh Alloh bukan semata-mata banyaknya amal, melainkan seberapa ikhlas amal tersebut hanya dipersembahkan kepada-Nya.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.
*Pengajar Nahwu Shorof di Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Alumi PP. Apik, Kendal Kaliwungu
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.