darulmaarif.net – Indramayu, 23 Juni 2026 | 16.00 WIB
Pewarta: Usth. Tati Sulastri, S.Sos.
Dalam dunia pendidikan pesantren, seorang guru tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi sosok yang mendampingi perjalanan tumbuh kembang santri. Di balik sikap, perilaku, dan prestasi seorang santri, terdapat proses psikologis yang perlu dipahami dengan pendekatan yang tepat.
Kesadaran inilah yang menjadi salah satu fokus utama dalam Pelatihan Dasar Konseling bagi Guruyang membekali para pendidik dengan pemahaman tentang pentingnya komunikasi, empati, serta kemampuan membaca kondisi emosional peserta didik.
Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari bidang psikologi, Izza HimawantiKetua Tim Public Speaking Psikologi Widya Wiwahaseorang akademisi, peneliti, konselor, asesor psikologi, serta praktisi public speaking psikologi.
Izza Himawanti diketahui memiliki latar belakang pendidikan S-1 Psikologi Universitas Diponegoro (UNDIP) tahun 2006melanjutkan S-2 Psikologi Universitas Katolik Soegijapranoto (UNIKA) dengan predikat cumlaude, lulusan tercepat, serta penerima Best Thesis Awarddan saat ini sedang menempuh pendidikan S-3 Psikologi Universitas Indonesia (UI).
Selain aktif sebagai dosen psikologi di beberapa perguruan tinggi, ia juga memiliki pengalaman profesional sebagai peneliti, konselor, asesor psikologi, praktisi sumber daya manusia, hingga aktif dalam berbagai organisasi psikologi.
Dalam perjalanan akademik dan profesionalnya, Izza juga pernah menjadi dosen Psikologi di UIN KH. Abdurrahman Wahid PekalonganUniversitas Nasional Karangturi Semarang, serta Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang. Ia juga aktif sebagai pengurus Asosiasi Psikologi Islam wilayah Jawa Tengah, pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), serta penggerak pusat pembelajaran keluarga.
Memahami Santri Tidak Cukup Hanya Melihat Perilaku
Dalam pelatihan tersebut dijelaskan bahwa seorang pendidik perlu memahami bahwa perilaku seorang santri sering kali memiliki latar belakang tertentu. Sikap diam, kurang semangat belajar, sulit beradaptasi, bahkan perilaku yang dianggap bermasalah, tidak selalu menunjukkan kurangnya kedisiplinan.
Ada faktor psikologis, sosial, dan emosional yang perlu digali sebelum memberikan penilaian.
“Seorang guru tidak cukup hanya melihat apa yang tampak dari perilaku anak, tetapi perlu memahami apa yang ada di balik perilaku tersebut. Karena setiap anak memiliki cerita dan proses yang berbeda.” Demikian pesan utama yang ditekankan dalam pendekatan konseling psikologi.
Menurutnya, hubungan antara guru dan santri perlu dibangun dengan komunikasi yang sehat. Ketika seorang santri merasa didengar dan dipahami, maka proses pembinaan akan lebih mudah diterima.
Mendengarkan dengan Empati, Membimbing dengan Pengetahuan
Salah satu kemampuan penting yang dikenalkan dalam pelatihan adalah mendengarkan secara aktif atau mendengarkan secara aktif.
Mendengar aktif bukan sekadar mendengarkan kata-kata, tetapi memahami perasaan, kebutuhan, dan pesan yang ingin disampaikan seseorang.
Dalam konteks pesantren, kemampuan ini menjadi penting karena santri hidup dalam lingkungan pendidikan yang menuntut kemandirian, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi.
“Nasihat yang baik akan lebih mudah diterima ketika seseorang terlebih dahulu merasa dihargai dan dipahami. Karena pendidikan bukan hanya proses memberikan arahan, tetapi juga membangun hubungan manusia yang positif.” Tandasnya.
Guru sebagai Pendamping Perjalanan Santri
Pelatihan konseling dasar ini menjadi pengingat bahwa pendidikan pesantren tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun karakter dan kematangan emosional.
Guru memiliki posisi strategis dalam membantu santri menghadapi berbagai tantangan, baik dalam belajar, kehidupan sosial, maupun perkembangan pribadi.
Dengan bekal ilmu konseling dan pendekatan psikologi, guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan pesantren yang lebih komunikatif, nyaman, dan mendukung pertumbuhan santri.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari seberapa banyak ilmu yang disampaikan, tetapi juga seberapa besar seorang guru mampu menghadirkan rasa aman, keteladanan, dan bimbingan bagi generasi yang sedang bertumbuh.
Semoga bermanfaat.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.