Mengusap Kepala Anak Yatim di Bulan Muharram: Dalil, Hukum, dan Makna di Balik Anjuran

darulmaarif.net – Indramayu, 01 Juli 2026 | 16.00 WIB

Bulan Muharram merupakan salah satu bulan suci dalam kalender Islam yang memiliki banyak keistimewaan. Salah satu amalan yang paling terkenal adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Namun di tengah masyarakat berkembang pula berbagai amalan lain yang sering dikaitkan dengan hari Asyura, seperti bersedekah secara sembunyi-sembunyi, menjenguk orang sakit, dan mengelus kepala anak yatim.

Lalu, apakah amalan mengusap kepala anak yatim khusus pada tanggal 10 Muharram memiliki dalil yang kuat? Bagaimana pandangan ulama mengenai makna mengusap kepala anak yatim dalam Islam?

Berikut penjelasan berdasarkan keterangan ulama dalam kitab-kitab klasik (turats).

Dalil Mengusap Kepala Anak Yatim di Bulan Muharram

Di antara riwayat yang sering disebutkan dalam pembahasan keutamaan hari Asyura adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas, Tuhan Allah:

Dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu keduanya, beliau bersabda: Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang berpuasa pada hari Asyura pada bulan Muharram, maka Allah SWT akan memberinya pahala sepuluh ribu juta dirham, dan barangsiapa yang berpuasa pada hari Asyura pada bulan Muharram, maka ia diberi pahala sepuluh orang syahid, dan siapa yang mengusapkan tangannya ke kepala anak yatim pada hari Asyura, maka Allah SWT akan membesarkannya dengan setiap rambut satu derajat.

Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda: Rasulullah SAW bersabda: ‘Barangsiapa yang berpuasa pada hari Asyura di bulan Muharram, maka Allah akan memberinya pahala sepuluh ribu malaikat. digosok.’” (Manaahiijul Imdaad I/521)

Namun, para ulama juga menjelaskan bahwa riwayat tentang keutamaan khusus mengusap kepala anak yatim pada tanggal 10 Muharram tidak termasuk hadits yang kuat derajatnya. Karena itu, amalan tersebut tidak dipahami sebagai kewajiban atau sunnah khusus yang memiliki ketetapan sekuat puasa Asyura.

Akan tetapi, makna umum dari mengusap kepala anak yatim dan menyayangi mereka memiliki dasar dari hadits-hadits lain yang menjelaskan keutamaannya.

Dalil Keutamaan Mengusap Kepala Anak Yatim

Dalam beberapa riwayat disebutkan pentingnya merawat dan menyayangi anak yatim.

Dari hadis Abu Umamah beliau bersabda: Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa mengusap kepala anak yatim yang hanya mengusapnya karena Allah, maka ia mendapat kebaikan untuk setiap helai rambut yang ia lewati.

Artinya: “Atas wewenang Abu Umamah al-Bahili semoga Allah merahmatinya dan memberinya kedamaian, Rasulullah SAW bersabda: ‘Barangsiapa menyentuh kepala anak yatim dan tidak menyentuhnya kecuali karena Allah, maka setiap helai rambut yang dilewati tangannya akan mendapat satu amal kebaikan.’” (HR. Imam Ahmad dan ath-Thobroni. Sanadnya dianggap dho’if)

Selain itu, ada juga hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

Ada seorang laki-laki yang mengadu kepada Nabi SAW, tentang kekerasan hatinya, maka beliau bersabda, “Beri makan orang miskin dan usap kepala anak yatim.”

Artinya: “Sesungguhnya seorang laki-laki mengadu kepada Nabi SAW tentang kerasnya hatinya. Maka Nabi SAW bersabda: ‘Berikanlah makanan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.’” (HR. Imam Ahmad, sanad hasan)

Sebagaimana dijelaskan dalam Fathil Baari karya Ibnu Hajar al-Asqalani XI/151, hadis-hadis tersebut menunjukkan keutamaan bersikap lemah lembut terhadap anak yatim sebagai wujud cinta dan kepedulian sosial.

Apa Maksud Mengusap Kepala Anak Yatim?

Para ulama berbeda dalam memahami makna “mengusap kepala anak yatim”. Sebagian ulama memahami secara hakiki, yaitu benar-benar mengusap kepala sebagai bentuk kasih sayang. Sebagian lainnya memahami sebagai ungkapan (kinayah) dari memberikan perhatian, perlindungan, dan kebaikan kepada anak yatim.

Menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami, makna membelai dalam hadis tersebut merupakan makna sebenarnya, yaitu menyentuh kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang.

Dia berkata:

Yang dimaksud dengan mengusap pada hadits kedua adalah hakikatnya, sebagaimana dijelaskan pada akhir hadits, yaitu (Barang siapa yang mengusap kepala anak yatim dan tidak mengusapnya kecuali karena Allah, maka baginya sepuluh kebaikan untuk setiap helai rambut yang dilewati tangannya. Dan siapa pun yang berbuat baik kepada anak yatim atau anak yatim miliknya, maka dia dan aku akan berada di surga seperti kedua orang ini, dan dia akan menyatukan kedua jarinya.)

Artinya: “Yang dimaksud dengan mengusap dalam hadits kedua adalah arti sebenarnya sebagaimana dijelaskan oleh hadits lain:

“Barang siapa mengusap kepala anak yatim yang ia lakukan semata-mata karena Alloh, maka setiap rambut yang dilewati tangannya mendapatkan sepuluh kebaikan. Dan barang siapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang berada di dekatnya, maka aku dan dia berada di surga seperti dua jari ini.’ Nabi SAW kemudian merapatkan kedua jarinya.” (Al-Fataawa al-Haditsiyyah li Ibni Hajar I/43)

Ibn Hajar al-Haitami menjelaskan bahwa kepala disebut secara khusus karena mengusap kepala memiliki makna penghormatan, kasih sayang, cinta, dan upaya menghibur hati anak yatim.

Dia berkata:

Beliau secara khusus menyebutkan kepala karena mengusapnya merupakan tanda hormat kepada pemiliknya, kasih sayang kepada pemiliknya, rasa cinta terhadapnya, dan kelegaan bagi pikirannya.

Artinya: “Kepala itu istimewa karena di dalam membelainya terdapat rasa hormat terhadap orang yang dibelai, rasa sayang padanya, rasa sayang, dan kenyamanan hatinya.”

Mengusap Kepala Anak Yatim: Antara Sentuhan dan Kepedulian

Sementara itu, Imam ath-Thayyibi sebagaimana dikutip oleh Imam al-Mulla Ali al-Qari dalam kitab Mirqotil Mafaatih menjelaskan bahwa maksud “mengusap kepala anak yatim” juga dapat dipahami sebagai bentuk kiasan dari kelembutan dan kasih sayang. Beliau berkata:

Al-Tibi mengatakan mengusap kepala anak yatim merupakan tanda kasih sayang dan kebaikan terhadapnya

Artinya: “Imam ath-Thoyyibi berkata: Mengusap kepala anak yatim merupakan metafora kasih sayang dan kelembutan terhadapnya.” (Mirqootul Mafaatiih Lisyarh Misikatil Masobih XIV/263)

Dengan demikian, inti dari amalan tersebut bukan hanya sekadar gerakan fisik mengusap kepala, tetapi menghadirkan nilai besar di baliknya: kepedulian, kasih sayang, dan perhatian terhadap anak-anak yang kehilangan sosok ayah.

Mengusap kepala anak yatim pada tanggal 10 Muharram memang sering disebut sebagai salah satu amalan yang memiliki keutamaan. Namun, dalil khusus yang mengaitkannya secara langsung dengan hari Asyura memiliki derajat yang diperselisihkan oleh para ulama.

Meski demikian, menyayangi anak yatim, membantu kebutuhan mereka, serta memberikan perhatian dengan penuh kasih sayang adalah amalan yang memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam.

Momentum bulan Muharram menjadi pengingat bahwa keberkahan bulan mulia tidak hanya diwujudkan melalui ibadah kepada Allah, tetapi juga melalui kepedulian kepada sesama manusia, terutama mereka yang membutuhkan kasih sayang dan perlindungan.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch