darulmaarif.net – Indramayu, 03 Agustus 2026 | 10.00 WIB
Oleh: Ust. Ade Reza Muhammad, Lc.
“Setiap anak datang ke pesantren membawa kitab di tangannya. Namun, tidak semua datang dengan hati yang utuh.”
Tidak Semua Santri Berangkat dari Titik Awal yang Sama
Fajar baru saja menyingsing di lingkungan pesantren. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an mulai terdengar dari setiap sudut asrama. Di sela-sela barisan santri yang bergegas menuju masjid, ada wajah-wajah yang tampak biasa saja. Mereka tersenyum, bercanda, mengikuti pelajaran, bahkan terkadang menjadi santri yang paling aktif. Namun siapa sangka, di balik senyum itu tersimpan kisah yang tidak pernah mereka ceritakan.
Ada santri yang tumbuh tanpa pelukan seorang ayah karena perceraian orang tuanya. Ada yang hanya mengenal kasih sayang ibu melalui panggilan video dari negeri seberang karena bekerja sebagai pekerja migran. Ada pula yang sejak kecil lebih akrab dengan pertengkaran daripada kehangatan keluarga. Tidak sedikit pula yang datang ke pesantren membawa luka batin yang tidak tampak oleh mata.
Dalam kondisi seperti itu, pesantren bukan lagi sekadar lembaga pendidikan. Ia berubah menjadi rumah kedua, tempat seorang anak belajar menemukan kembali rasa aman, penghargaan, dan kasih sayang yang mungkin belum sempat ia rasakan di rumahnya sendiri.
Di sinilah peran seorang ustadz, musyrif, maupun pengasuh menjadi jauh lebih besar daripada sekadar penyampai materi pelajaran. Mereka hadir sebagai pendidik (murobbi), pembimbing (mu’addib), sekaligus figur yang menghadirkan ketenangan bagi jiwa-jiwa yang sedang bertumbuh.
Islam sendiri sejak awal tidak memisahkan antara pendidikan ilmu dan pendidikan hati. Bahkan, Al-Qur’an meletakkan kasih sayang sebagai fondasi utama dalam membentuk manusia.
Pendidikan Dimulai dari Rahmat, Bukan Kemarahan
Ketika Alloh SWT mengutus baginda Nabi Muhammad SAW, misi pertama beliau bukanlah menghadirkan ketakutan, melainkan membawa rahmat.
Alloh SWT berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyā’ Ayat 107)
Ayat ini sering dipahami sebagai misi dakwah Islam kepada umat manusia secara umum. Namun para ulama tafsir menjelaskan bahwa sifat kasih sayang yang melekat pada Rosululloh SAW bukan hanya tampak dalam penyampaian syariat, melainkan juga dalam cara beliau memperlakukan manusia sehari-hari.
Dalam Tafsir Ibn Katsir, dijelaskan bahwa Alloh Ta’ala menjadikan Rosululloh SAW sebagai rahmat bagi siapa saja yang menerima petunjuk beliau. Rahmat itu tercermin melalui kelembutan, kemudahan, kasih sayang, dan bimbingan menuju keselamatan. Adapun orang yang menolak risalahnya, tetap memperoleh sisi rahmat berupa ditangguhkannya azab yang dahulu menimpa umat-umat terdahulu.
Syekh Sulaiman al-Jamal dalam salah satu kitabnya juga memberikan penjelasan perihal kata rahmat pada frase rahmatan lil ‘alamin dalam ayat di atas. Beliau mengatakan,
اَلْمُرَادُ بِالرَّحْمَةِ الرَحِيْمُ. وَهُوَ كاَنَ رَحِيْمًا بِالْكَافِرِيْنَ. أَلَا تَرَى أَنَّهُمْ لَمَّا شَجُّوْهُ وَكَسَرُوْا رَبَاعِيَتَهُ حَتَّى خَرَّ مُغْشِيًّا عَلَيْهِ. قَالَ بَعْدَ اِفَاقَتِهِ اللهم اهْدِ قَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Yang dimaksud dengan rahmat adalah ar-rahim (bersifat penyayang). Nabi Muhammad SAW adalah orang yang bersifat penyayang kepada orang kafir. Tidakkah Anda lihat, ketika orang kafir melukai Nabi dan mematahkan beberapa giginya, hingga ia terjatuh dan pingsan, kemudian ketika sadar ia berdoa kepada Alloh, ‘Ya Allah! Berilah hidayah untuk kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui’,” (Sulaiman al-Jamal, al-Futuhatul Ilahiyah bi Taudhihi Tafsiril Jalalain lid Daqaiqil Khafiah, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah] juz V, h. 176)
Artinya, dakwah Nabi bukan dibangun di atas kemarahan, tetapi di atas kasih sayang. Bahkan Nabi SAW tetap ramah kepada mereka yang bukan hanya menolak risalah beliau, melainkan juga hendak membunuhnya. Inilah prinsip dan wajah Islam sesungguhnya yang perlu kita jaga baik sebagai pendidik, maupun sebagai orang tua yang mengasuh anak-anak.
Seorang Pendidik Harus Memiliki Hati yang Lembut
Alloh SWT kembali menegaskan karakter Rosululloh SAW dalam firman-Nya,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Artinya: “Maka berkat rahmat Alloh engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Āli ‘Imrān Ayat 159)
Ayat ini turun setelah Perang Uhud, ketika sebagian sahabat melakukan kesalahan yang berakibat besar. Namun Alloh tidak memerintahkan Nabi SAW untuk mempermalukan atau mengusir mereka. Sebaliknya, Alloh memerintahkan beliau tetap bersikap lembut, memaafkan, serta terus membimbing mereka.
Para mufassir, seperti Imam al-Qurṭubi, menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kelembutan bukanlah tanda kelemahan, melainkan metode pendidikan yang justru memperkuat ikatan antara pendidik dan peserta didik. Ketika hati telah dekat, nasihat lebih mudah diterima. Sebaliknya, kekerasan yang tidak pada tempatnya dapat membuat seseorang menjauh sebelum sempat memahami kebenaran.
Nilai ini sangat relevan di lingkungan pesantren. Seorang santri yang melakukan pelanggaran memang perlu dibina dan didisiplinkan, tetapi pendekatan yang berangkat dari kasih sayang akan lebih efektif daripada sekadar hukuman yang membuatnya merasa ditolak.
Rosululloh SAW Merasakan Beratnya Beban Umat
Kasih sayang Rosululloh SAW bukan sekadar sikap sosial, melainkan lahir dari kepedulian yang mendalam terhadap kondisi umat.
Dalam Al-Qur’an, Alloh SWT berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami. Ia sangat menginginkan keselamatan bagi kalian, dan terhadap orang-orang beriman ia sangat penyantun lagi penyayang.” (QS. At-Taubah Ayat 128)
Ayat ini menggambarkan betapa Rosululloh SAW tidak pernah memandang manusia hanya dari kesalahan yang mereka lakukan. Beliau melihat penderitaan, kelemahan, dan kebutuhan mereka akan bimbingan.
Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Hidayatul Qur’an, karya KH Afifudin Dimyathi (Gus Awis), ayat ini menggambarkan karakter kepemimpinan baginda Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin yang dekat dengan umat, peka terhadap penderitaan mereka, serta berorientasi pada keselamatan iman dan perbaikan kehidupan orang-orang beriman.
وَالْمَعْنَى: لَقَدْ جَاءَكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ رَسُولٌ مِنْ قَوْمِكُمُ الْعَرَبِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ﴾ [الْجُمُعَةِ: ٢]، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنْفُسِهِمْ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: ١٦٤]، تَشُقُّ عَلَيْهِ مَشَقَّتُكُمْ، حَرِيصٌ عَلَى إِيمَانِكُمْ وَهِدَايَتِكُمْ وَإِصْلَاحِكُمْ، وَهُوَ شَدِيدُ الرَّأْفَةِ وَالرَّحْمَةِ بِالْمُؤْمِنِينَ
Artinya: “Maknanya: Sungguh telah datang kepada kalian—wahai orang-orang beriman—seorang rasul dari kaum kalian sendiri, yaitu dari bangsa Arab, sebagaimana firman Alloh Ta‘ala: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka sendiri” (QS. al-Jumu‘ah: 2), dan firman-Nya: “Sungguh Alloh telah memberikan karunia kepada orang-orang mukmin ketika Dia mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri” (QS. Ali ‘Imran: 164). Ia merasa berat dengan kesulitan yang kalian alami; sangat bersungguh-sungguh menginginkan keimanan, hidayah, dan perbaikan keadaan kalian; dan ia sangat penuh belas kasih serta rahmat terhadap orang-orang beriman.” (Afifuddin Dimyathi, Tafsir Hidayatul Qur’an, Surat At-Taubah: 128)
Pada redaksi ayat maupun tafsir, potret kepemimpinan Rasul digambarkan dengan 4 ciri. Yaitu, dari golongan bangsa Arab (مِّنْ أَنْفُسِكُمْ), memikul beratnya beban seluruh umatnya ( عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ ), totalitas dalam mengayomi umat (حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ ), dan sangat mengasihi serta menyayangi umatnya (بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ).
Dalam konteks pendidikan pesantren, ayat ini mengajarkan bahwa seorang ustadz tidak cukup hanya mengetahui siapa santri yang melanggar aturan. Ia juga perlu berusaha memahami mengapa santri itu berperilaku demikian. Ada kalanya pelanggaran bukan semata-mata karena pembangkangan, tetapi merupakan ungkapan dari luka, kehilangan perhatian, atau pencarian kasih sayang.
Memahami latar belakang bukan berarti membenarkan kesalahan. Sebaliknya, pemahaman itu membantu pendidik memilih cara membina yang lebih tepat sehingga disiplin tetap ditegakkan tanpa menghilangkan martabat anak.
Kasih Sayang sebagai Pondasi Tarbiyah
Dalam tradisi pendidikan Islam, tujuan tarbiyah bukan sekadar melahirkan anak yang patuh terhadap aturan, tetapi membentuk pribadi yang mengenal Alloh, berakhlak mulia, dan tumbuh secara seimbang.
Karena itu, kasih sayang bukan pelengkap dalam pendidikan, melainkan fondasinya. Seorang murabbi yang mengajar dengan ilmu tetapi tanpa kepedulian akan sulit menyentuh hati peserta didiknya. Sebaliknya, kasih sayang yang disertai ilmu melahirkan hubungan pendidikan yang mampu membentuk karakter.
Pesantren sejak dahulu dikenal bukan hanya karena kekuatan sanad ilmunya, tetapi juga karena tradisi pengasuhan yang dekat antara kiai, ustadz, dan santri. Di banyak pesantren, santri mengenang gurunya bukan semata karena keluasan ilmu yang diajarkan, melainkan karena perhatian-perhatian kecil yang menumbuhkan rasa memiliki: sapaan yang hangat, doa yang tulus, atau kehadiran seorang guru saat mereka sedang menghadapi masa-masa sulit.
Di tengah meningkatnya jumlah santri yang datang dari berbagai latar belakang keluarga, nilai-nilai Al-Qur’an tentang kasih sayang menjadi semakin relevan. Pendidikan yang kokoh tidak hanya dibangun oleh kurikulum yang baik, tetapi juga oleh hati-hati yang mampu menghadirkan kasih sayang dalam setiap proses pembinaan.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.