Mau’idzhoh Hasanah Isra Mi’raj 1447 H: Mengundang Perintah Sholat dari Surga, Mengikat Iman di Tengah Dunia Modern

darulmaarif.net – Indramayu, 17 Januari 2026 | 22.00 WIB

Pewarta: Usth. Putri Levia Septi Hidayati S.Pd.

Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan Indramayu berlangsung khidmat dan sarat makna. Momentum tahunan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan ruang tafakur kolektif bagi para santri untuk meneguhkan kembali iman, ketaatan, dan kedisiplinan ibadah, khususnya sholat.

Dalam mau‘idzhoh hasanah pada puncak peringatan Isra Mi‘raj, Kyai Sanuri, S.Pd.I menegaskan bahwa Isra Mi‘raj adalah peristiwa agung yang melampaui batas nalar manusia, namun justru menjadi bukti mutlak kekuasaan Allah SWT.

“Dunia saat ini mengagung-agungkan kecepatan teknologi, kecanggihan mesin, dan kehebatan senjata modern. Padahal jauh sebelum semua itu ada, Allah telah berjalan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus tujuh lapis surga hingga Sidratul Muntaha hanya dalam waktu satu malam,” kata Kyai Sanuri.

Isra Mi’raj: Perjalanan Ilahi, Bukan Sekadar Sejarah

Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Nabi Muhammad SAW. Keagungan-Nya langsung diabadikan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Isra’ ayat 1yang diawali dengan lafadz subḥānasebagai penegasan bahwa peristiwa ini sepenuhnya berada dalam kehendak dan kekuasaan Alloh SWT.

Allah SWT berfirman:

Maha Suci Dia yang menawan hamba-Nya dari Masjidil Haram hingga Masjid terjauh. Kami telah memberkati dia disekelilingnya, agar Kami menunjukkan kepadanya tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

“Maha suci bagi yang telah memimpin hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-Aqsa yang telah Kami berkahi di sekelilingnya sehingga Kami dapat menunjukkan kepadanya (Muhammad) tentang ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS: Surat Al-Isra’ ayat 1)

Menurut Kyai Sanuri, sebagaimana dijelaskan para ulama tafsir klasik seperti Imam Al-Qurthubipenggunaan pengucapan subḥāna di awal ayat mempunyai arti tanzih – mensucikan Allah dari segala kekurangan.

“Kalau Allah menghendaki, maka tidak ada yang mustahil. Isra Mi’raj itu bukan soal masuk akal atau tidak, tapi soal iman atau keraguan. Jadi ayat ini diawali dengan subḥāna untuk menutup pintu keraguan,” jelasnya.

Kemuliaan Lafadz “Hamba”: Puncak Derajat Rosululloh SAW

Lebih lanjut, Kyai Sanuri menjelaskan bahwa Alloh SWT tidak menyebut Nabi Muhammad SAW dengan gelar kenabian atau kerasulan dalam ayat Isra Mi‘raj, melainkan dengan lafadz mengikuti ‘abdihi (hamba-Nya). Hal ini, menurut para ulama, justru menunjukkan derajat paling mulia.

Dikutip dari pendapat Imam Al-Qusyairi, ketika Rasulullah SAW diangkat ke hadirat tertinggi, sesungguhnya Allah mengangkatnya dengan sifat penghambaan sebagai wujud ketundukan total dan teladan kerendahan hati bagi umatnya.

“Semakin tinggi derajat seseorang di sisi Alloh, justru semakin kuat sifat kehambaannya. Inilah pesan penting Isra Mi‘raj bagi santri: ilmu tinggi harus dibarengi adab dan tawadhu’,” tegas Kyai Sanuri.

darulmaarif.net 5 1

Dari sudut pandang ilmu nahwu dan sharafistilah Isra’ memiliki kedalaman makna yang sangat kuat. Secara bahasa, Isra’ adalah kata yang mempunyai bentuk shighat mashdar yang berasal dari fi‘il madhi asra (Tahanan), termasuk kategori tsulatsi mazid ruba’iyang akar katanya berasal dari fi‘il tsulatsi mujarrod di embun (rahasia) – yasri (berlaku) – penularan (transliterasi), artinya yang berjalan di waktu malam. Namun, para ulama menjelaskan bahwa penggunaan kata asra memiliki penekanan makna yang lebih khusus dibanding di embun normal

Seperti yang dijelaskan dalam buku tersebut Al-Amtsilatu at-Tashrfiyyah karya Syekh Muhammad Ma’shum bin ‘Ali*, laphdz *asrā* (أسرى) merupacan ke ‘l tsulatsi mazid dengan tambahan satu huruf, yaitu hamzah (أ) di awal kata, yang mengikuti wazan Af’ala (أَفْعَلَ). Hamzah tambahan ini berfungsi sebagai hamzah ta‘diyahyakni menjadikan fi‘il yang asalnya lazim (intransitif) berubah menjadi selamat tinggal (transitif), sehingga membutuhkan Semula’ atau objek penderita.

Dengan struktur kebahasaan, ayat pertama Surat Al-Isra’ secara gramatikal bukan sekedar berarti “berjalan di malam hari”, melainkan “Allahlah yang membuat Nabi Muhammad SAW berjalan”. Jadi terjemahan yang lebih akurat dalam bahasa Nahwu adalah: “Maha Suci Allah yang telah memberi petunjuk kepada hamba-Nya (Muhammad) di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…”. Hal ini semakin menegaskan bahwa peristiwa Isra Mi‘raj bukanlah hasil kemampuan Rosululloh SAW secara mandiri, melainkan murni kehendak, kekuasaan, dan pengaturan langsung dari Alloh SWT.

Tata Cara Sholat : Anugerah Surga Bagi Umat Nabi Muhammad SAW

Puncak dari peristiwa Isra Mi‘raj adalah diterimanya perintah sholat secara langsung oleh Rosululloh SAW. Awalnya, sholat diwajibkan sebanyak 50 kali dalam sehari. Namun atas saran Nabi Musa AS, Rosululloh SAW memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan menjadi 5 waktu sholatdengan pahala tetap setara 50 kali.

“Lima waktu sholat itu bukan beban, tapi bukti kasih sayang Alloh. Pahalanya 50, kewajibannya hanya 5. Maka rugi besar orang yang masih meremehkan sholat,” dawuh Kyai Sanuri di hadapan para santri.

Beliau menambahkan, sholat adalah satu-satunya ibadah yang perintahnya turun langsung dari langit, bukan melalui perantara wahyu di bumi. Hal ini menunjukkan betapa sentralnya sholat dalam kehidupan seorang muslim.

Meneguhkan Iman di Tengah Tantangan Zaman

Di akhir tausiyahnya, Kyai Sanuri mengajak para santri untuk menjadikan Isra Mi‘raj sebagai titik balik dalam memperbaiki kualitas ibadah dan kedisiplinan hidup.

“Isra Mi‘raj mengajarkan bahwa kemajuan sejati bukan soal teknologi, tapi sejauh mana kita dekat dengan Alloh. Santri harus kuat iman, kokoh sholatnya, dan lurus akhlaknya,” pungkas beliau.

Peringatan Isra Mi‘raj 1447 H ini menjadi pengingat bahwa pesan langit yang dibawa Rosululloh SAW masih relevan hingga hari ini: sholat sebagai tiang agama, penopang iman, dan jalan keselamatan menuju ridha Alloh SWT.

Semoga seluruh santri Pondok Pesantren Darul Ma’arif mampu meneladani spirit Isra Mi‘raj dalam kehidupan sehari-hari, menjaga sholat, memperkuat iman, dan meniti jalan ilmu dengan akhlakul karimah. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Semoga bermanfaat.


News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film

A gaming center is a dedicated space where people come together to play video games, whether on PCs, consoles, or arcade machines. These centers can offer a range of services, from casual gaming sessions to competitive tournaments.