darulmaarif.net – Indramayu, 21 Mei 2026 | 10.00 WIB
Di tengah kehidupan modern hari ini, profesi guru agama sering berada di persimpangan persepsi masyarakat. Di satu sisi, mereka dipandang sebagai pewaris tugas para nabi yang mengajarkan ilmu agama dan membimbing umat. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang bertanya-tanya: “Kalau mengajar agama digaji, apa masih dapat pahala?”
Pertanyaan ini semakin relevan ketika banyak guru ngaji, ustadz, guru madrasah, hingga pengajar pesantren kini menerima honor, gaji bulanan, atau tunjangan profesional. Bahkan ada yang mendapat bayaran cukup besar dari lembaga pendidikan tempat mereka mengajar. Sebagian orang lalu memandang sinis, seolah keikhlasan menjadi gugur hanya karena adanya upah.
Padahal, Islam adalah agama yang realistis. Syariat tidak menutup mata bahwa seorang guru juga manusia yang memiliki kebutuhan hidup, menanggung keluarga, membayar kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, hingga biaya kehidupan sehari-hari. Karena itu, menerima gaji dari mengajar agama tidak otomatis menghapus pahala dan keikhlasan seseorang.
Mengajar Agama dan Mencari Nafkah Bisa Berjalan Bersama
Para ulama menjelaskan bahwa seseorang tetap bisa mendapatkan pahala walaupun menerima upah dari pekerjaan keagamaan, selama niat utamanya tidak semata-mata demi dunia. Terlebih jika gaji tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menopang kehidupan agar tetap bisa istiqamah mengajar.
Dalam fatwa tersebut Majma’ Al-Fiqh Al-Islami disebutkan bahwa jika para pengajar agama tidak menerima upah, maka mereka tidak akan memiliki sumber penghidupan yang menopang kehidupan mereka. Artinya, pemberian gaji dalam konteks ini merupakan kebutuhan yang wajar dan dibenarkan syariat.
Penjelasan ini juga dibenarkan oleh Imam Ibnu Hajar dalam Hasyiyah Manasik Al-Idlah halaman 40:
Namun jika dia bermaksud menafkahi keluarganya, maka dialah yang berhak menerima pahala.
Artinya: “Adapun jika dia bertujuan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, maka dia tetap harus mendapat pahala.” (Hasyiyah Manasik Al-Idlah, hal. 40)
Kalimat ini menunjukkan bahwa mencari nafkah untuk keluarga bukan sesuatu yang bertentangan dengan keikhlasan. Bahkan dalam Islam, memberi nafkah kepada keluarga sendiri termasuk kewajiban dan amal ibadah yang berpahala.
Ukuran Utamanya Ada Pada “Bā‘its” (Motif Pendorong)
Dalam pembahasan tasawuf, para ulama sering menggunakan istilah al-bait (الباعث), yaitu motif atau dorongan utama di balik suatu amal. Apakah seseorang mengajar semata-mata karena uang, ataukah karena cinta kepada ilmu dan dakwah, meskipun tetap berharap penghasilan?
Jika seseorang tetap akan mengajar walaupun tidak diberi bayaran, maka ini menunjukkan bahwa dorongan utamanya adalah pengabdian dan keikhlasan. Sedangkan gaji hanyalah penopang kehidupan.
Imam Al-Ghozali di Ihya’ ‘Ulumiddin menjelaskan bahwa terkadang dua motif bisa berkumpul dalam satu amal, dan keduanya sama-sama mempengaruhi tindakan seseorang.
Beliau memberi permisalan seseorang membantu kerabat miskin. Ia membantu karena dua hal sekaligus: karena hubungan kekerabatan dan karena melihat kefakirannya. Seandainya salah satu faktor itu tidak ada, ia tetap akan membantu karena faktor lainnya.
Berikut ibarat dari Ihya’ ‘Ulumiddin:
Adapun yang kedua adalah berkumpulnya dua sumber yang masing-masing independen dalam melaksanakan kebangkitan walaupun sendirian. Contoh nyata adalah ketika dua orang bekerja sama untuk membawa sesuatu dengan kekuatan yang cukup untuk dibawa jika mereka sendirian. Contoh dari tujuan kita adalah bahwa sanak saudaranya yang miskin meminta sesuatu kepadanya, dan dia memenuhinya karena kemiskinan dan kekerabatannya, dan dia mengetahui bahwa jika bukan karena kemiskinannya, dia akan menebusnya dengan kekeluargaan belaka, dan jika bukan karena kekerabatannya, dia akan menggantinya dengan kemiskinannya saja, dan dia mengetahui hal itu dari dirinya sendiri bahwa dia menghadirinya. Seorang kerabat yang kaya ingin memenuhi kebutuhannya, dan seorang asing yang miskin ingin memenuhi kebutuhannya juga.
Artinya: “Adapun keadaan yang kedua, yaitu berkumpulnya dua motif (pendorong) dalam satu amal, di mana masing-masing motif tersebut sebenarnya sudah cukup untuk mendorong seseorang melakukan perbuatan itu meskipun berdiri sendiri.
Contoh yang bersifat konkret adalah dua orang yang bersama-sama mengangkat suatu barang, padahal masing-masing dari keduanya sebenarnya sudah memiliki kekuatan yang cukup untuk mengangkat barang tersebut sendirian.
Sedangkan contoh dalam pembahasan kita adalah seseorang yang dimintai bantuan oleh kerabatnya yang miskin. Lalu ia memenuhi kebutuhan tersebut karena dua hal sekaligus: karena kefakirannya dan karena hubungan kekerabatannya.
Dan ia sadar, seandainya kerabat itu tidak miskin, niscaya ia tetap akan membantunya semata-mata karena hubungan kekerabatan. Begitu pula seandainya orang itu bukan kerabatnya, niscaya ia tetap akan membantunya semata-mata karena kefakirannya.
Ia mengetahui hal itu dari keadaan dirinya sendiri; yakni ketika ada kerabat kaya datang kepadanya, ia tetap ingin membantu kebutuhannya. Dan ketika ada orang asing yang miskin datang kepadanya, ia juga terdorong untuk membantunya.”
Dalam konteks pembahasan Imam Al-Ghozali di Ihya’ Ulumiddin, ibarat ini menjelaskan bahwa satu amal bisa didorong oleh dua niat sekaligus tanpa menghilangkan nilai pahala, selama dorongan kebaikan dan niat ibadah masih benar-benar ada dalam hati pelakunya.
Lebih lanjut, Imam Al-Ghozali menerangkan bahwa satu amal dapat didorong oleh dua niat sekaligus; niat ibadah dan niat duniawi yang mubah. Selama niat ibadah tetap hadir dan menjadi bagian dari dorongan amal tersebut, maka pahala ibadah tetap diharapkan ada.
Demikian pula jika dokter menyuruhnya untuk berhenti makan, dan tibalah hari Arafah, maka dia berpuasa, dengan mengetahui bahwa seandainya hari itu bukan hari Arafah, maka dia akan meninggalkan makanan karena pola makan, dan jika bukan karena pola makan, niscaya dia akan meninggalkannya karena hari itu adalah hari Arafat, dan mereka semua berkumpul, maka dia pun melanjutkan amalan tersebut.
Artinya: “Demikian pula seseorang yang diperintahkan dokter untuk meninggalkan makanan (berdiet atau berpuasa demi kesehatan), lalu datang hari Arafah dan ia pun berpuasa.
Sedangkan ia mengetahui bahwa seandainya hari itu bukan hari Arafah, niscaya ia tetap akan meninggalkan makanan demi menjaga kesehatan (diet). Dan seandainya bukan karena alasan menjaga kesehatan, niscaya ia tetap akan meninggalkan makanan karena hari itu adalah hari Arafah.
Maka kedua motif tersebut berkumpul sekaligus dalam dirinya, lalu ia tetap melakukan perbuatan tersebut.”
Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa seorang guru agama bisa saja memiliki dua niat sekaligus:
- mengajar demi ilmu dan ibadah,
- sekaligus mendapatkan penghidupan yang halal bagi keluarga.
Dan selama niat ibadah masih dominan atau tetap ada dalam dirinya, maka pahala mengajar tetap diharapkan mengalir.
Guru agama juga manusia
Kadang masyarakat terlalu mudah menuntut guru agama agar hidup “murni ikhlas”, tetapi lupa bahwa mereka juga memiliki kebutuhan hidup. Ironisnya, ketika guru agama menerima gaji dianggap kurang ikhlas, namun ketika mereka hidup kesulitan justru sedikit yang peduli.
Padahal para ulama terdahulu pun banyak yang menerima tunjangan dari baitul mal, hadiah dari murid, atau dukungan penguasa agar bisa fokus mengajar dan menyebarkan ilmu.
Bahkan dalam realitas hari ini, tanpa adanya penghasilan yang layak, banyak guru agama akhirnya terpaksa meninggalkan dunia pendidikan demi pekerjaan lain yang lebih menjamin kebutuhan hidup keluarganya. Jika itu terjadi, maka masyarakat sendiri yang akan kehilangan keberkahan ilmu dan pendidikan agama.
Keikhlasan Tidak Selalu Berarti Tanpa Bayaran
Ada kesalahpahaman yang cukup sering muncul di tengah masyarakat: mengira ikhlas berarti harus bekerja tanpa bayaran. Padahal ikhlas itu letaknya di hati, bukan pada ada atau tidaknya honor.
Seseorang bisa saja mengajar gratis tetapi dipenuhi riya dan ingin dipuji. Sebaliknya, ada orang yang menerima gaji namun tetap tulus mengajar, sabar membimbing murid, dan mengabdikan hidupnya untuk pendidikan umat.
Karena itu, ukuran keikhlasan tidak sesederhana ada honor atau tidak. Yang lebih penting adalah orientasi hati dan tujuan utama dalam beramal.
Guru agama yang mengajar dengan sistem digaji tetap bisa mendapatkan pahala, selama niatnya bukan semata-mata mencari dunia, melainkan juga untuk berdakwah, menyebarkan ilmu, dan memenuhi nafkah keluarga dengan cara yang halal.
Islam tidak melarang seorang pengajar agama menerima upah. Bahkan dalam banyak keadaan, gaji menjadi sarana agar mereka bisa terus mengajar dan mengabdi kepada umat dengan lebih baik.
Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan bukan sekedar ada tidaknya pembayaran, melainkan kesucian niat dalam hati. Sebab sedekah dalam Islam tidak hanya dinilai dari tampilan luarnya saja, namun juga dari motif dan tujuan yang mendasarinya.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.