darulmaarif.net – Indramayu, 31 Januari 2026 | 09.00 WIB
Di lingkungan pondok pesantren, tradisi hotmil Al-Qur’an bukan sekadar seremoni keagamaan, tetapi telah menjadi bagian dari budaya spiritual yang hidup dan mengakar. Khotmil Al-Qur’an—baik secara individu maupun dalam bentuk majelis bersama—serta khotmil Juz ‘Amma yang rutin dilaksanakan oleh para santri, merupakan simbol kesungguhan dalam membangun kedekatan dengan Al-Qur’an sejak dini.
Tradisi ini bukan hanya bernilai mendidik, tetapi juga mengandung dimensi ruhani, sosial, dan ketuhanan yang kuat. Pesantren menjadikan khataman sebagai sarana pembentukan karakter, penguatan disiplin ibadah, serta internalisasi kecintaan terhadap Ayat-ayat KalamulLoh. Karena itu, khotmil Qur’an tidak berdiri sebagai ritual kosong, melainkan sebagai bagian dari sistem pendidikan ruhani yang terstruktur.
Secara normatif, keutamaan menuntaskan Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah yang pahala dan keberkahannya besar. Salah satu keutamaannya dijelaskan dalam hadis Nabi SAW:
Ketika seorang hamba menyelesaikan Al-Qur’an, enam puluh ribu malaikat mendoakannya ketika dia menyelesaikannya.
Artinya: “Bila seseorang menyelesaikan Al-Qur’an, maka 60.000 malaikat memohon ampun kepadanya pada saat menyelesaikannya.” (HR Ad-Dailami)
Fadiant Kami Fadhilah Al-Qur’an Sesuai Tujuan
Dalam memaknai hadits di atas, para ulama cenderung memahami bahwa fadhilah tersebut diperoleh secara individubukan bersifat jama’ah. Artinya, keutamaan khusus ini diperuntukkan bagi orang yang membaca Al-Qur’an secara utuh, mulai dari Surat al-Fatihah sampai surat an-Nas.
Pemaknaan ini salah satunya dijelaskan dalam kitab as-Sirajul Munir Syarh al-Jami’is Shogir:
(Ketika seorang hamba menyelesaikan Al-Qur’an) artinya setiap kali dia membacanya dari awal sampai akhir (enam puluh ribu malaikat mendoakannya ketika dia menyelesaikannya) artinya mereka memohon ampun kepadanya. Al-Manawi mengatakan, kemungkinan nomor tersebut akan hadir jika sudah disegel, dan ternyata yang dimaksud dengan nomor tersebut adalah keberagaman, bukan kekhususan.
Artinya: “Ketika seseorang selesai membaca Al-Qur’an, artinya ketika ia membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir, maka 60.000 malaikat memohon ampun kepadanya, yang berarti memohon ampun baginya. Imam al-Munawi berkata: ‘Yang dimaksud dengan jumlah malaikat yang ada di akhir Al-Qur’an jelas sebatas menunjukkan arti banyak, bukan angka tertentu.”
(Syekh Ali bin Ahmad al-Azizi, as-Siraj al-Munir Syarh al-Jami’is Shogirjuz 1, Hal. 111)
Penegasan makna tersebut juga diperkuat dalam buku tersebut at-Tanwir Syarh Jami’is Shogir:
(Dan siapa yang menyelesaikan Al-Qur’an)
Artinya, dia menyelesaikannya sampai akhir, karena dia mengetahui kata ini
Artinya: “Barangsiapa yang menyelesaikan Al-Qur’an, maka maknanya adalah menyelesaikan membaca Al-Qur’an sampai tamat/khatam, karena makna ini adalah ‘urf dari pengucapan hadis.”
(Muhammad bin Ismail al-Hasani, at-Tanwir Syarh Jami’is Shogirjuz 10, hal. 295)
Dari penjelasan ini, tampak jelas bahwa keutamaan khatam Al-Qur’an secara khusus berkaitan dengan kesempurnaan membaca individubukan semata kebersamaan majelis ilmu.
Meski demikian, Islam juga memberikan keutamaan besar bagi majelis Al-Qur’anyaitu berkumpul untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an secara bersama-sama. Hal ini ditegaskan dalam hadits:
Kapanpun suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Tuhan, membaca Kitab Tuhan dan berdiskusi satu sama lain, maka ketenangan turun atas mereka dan rahmat menyelimuti mereka. Para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah SWT menyebut mereka termasuk orang-orang yang bersama-Nya. Diriwayatkan oleh Ahmad.
Artinya: “Tidak berkumpul suatu kaum di rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) sembari melantunkan Al-Qur’an dan saling mempelajari Al-Qur’an di antara mereka, kecuali turun pada mereka ketenangan, rahmat Allah menaungi mereka, malaikat mengelilingi mereka dan Alloh menyebut mereka dalam golongan orang yang ada di sisi-Nya.” (HR. Imam Ahmad)
Para ulama kemudian menjelaskan bahwa keutamaan ini tidak terbatas hanya di masjid. Imam an-Nawawi dalam Syarh an-Nawawi li al-Muslim menegaskan:
Untuk mencapai keutamaan tersebut, pertemuan di sekolah, ribat, dan sejenisnya dilekatkan di masjid, Insya Allah, hal ini ditunjukkan dengan hadis-hadis berikutnya, karena bersifat mutlak dan mencakup segala situasi, dan pantangan pada hadis pertama sebagian besar tidak mungkin, apalagi pada saat itu, sehingga tidak ada konsep untuk dikerjakan.
Artinya: “Disamakan dengan masjid dalam hasilnya fadhilah yaitu berkumpul di madrasah, pesantren dan tempat-tempat sesamanya, Insya Alloh. Hal ini ditunjukkan dengan hadits setelahnya yang berlafalkan mutlak, sehingga mencakup semua tempat. Maka memberi batasan makna dalam hadits pertama keluar dari pemahaman umum, terlebih pada zaman tersebut. Maka tidak ada mafhum yang dapat diamalkan.”
(Imam Syarifuddin Yahya An-Naway, Syarh an-Nawawi lil Muslimjuz 17, hal. 22)
Tradisi Khotmil Al-Qur’an dan Juz ‘Amma di Pesantren
Dalam konteks pesantren, tradisi hotmil Al-Qur’an dan khotmil Juz ‘Amma memiliki makna yang lebih luas dari sekadar pahala individual. Ia menjadi:
- sarana pendidikan ruhani santri,
- media internalisasi kecintaan terhadap Al-Qur’an,
- instrumen pembentukan sopan santun dan disiplin beribadah,
- serta wahana konstruksi spiritual kolektif.
Khotmil Juz ‘Amma, khususnya, menjadi fase awal pembentukan relasi santri dengan Al-Qur’an, menanamkan rasa cinta, keberanian membaca, dan kepercayaan diri spiritual. Sementara khotmil Qur’an menjadi simbol kedewasaan ruhani dalam perjalanan keilmuan para santri.
Dengan demikian, tradisi khataman di pesantren bukanlah klaim fadhilah yang keliru, tetapi merupakan perpaduan antara fadhilah individu dan barokah majelis Qur’anantara pahala personal dan rahmat jama’ah.
Tradisi khotmil Al-Qur’an dan Juz ‘Amma di pesantren adalah warisan spiritual yang tidak hanya berdimensi ibadah, tetapi juga pendidikan, peradaban, dan pembentukan karakter. Ia mengajarkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dihidupi; tidak hanya dilafalkan, tetapi ditanamkan dalam jiwa.
Pesantren dengan tradisi khatamannya membangun generasi yang tidak sekedar hafal ayat, namun paham maknanya, tidak sekedar fasih membaca, namun kuat iman. Di sanalah Al-Qur’an tidak hanya menjadi kitab suci, namun menjadi kitab suci ruh peradaban. Al-Qur’an tidak sekedar dibaca, namun membentuk jiwa. Tidak hanya disimpulkan, namun terekspresikan dalam perilaku hidup.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
A gaming center is a dedicated space where people come together to play video games, whether on PCs, consoles, or arcade machines. These centers can offer a range of services, from casual gaming sessions to competitive tournaments.